Senin, 17 November 2008
napa ga bilang bossss
Dr. Alwi Shahab SpPD
Obat jadi Pilihan Kedua untuk Penyembuhan
Saat ini, hampir setiap kali pasien mengeluhkan penyakitnya, dokter yang menangani selalu memberikan resep obat yang harus ditebus di apotek.Ternyata, tidak semua dokter gemar menggunakan obat dalam usaha menyembuhkan pasiennya.
dr Alwi Shahab SpPD, misalnya. Dokter kelahiran Palembang, 8 Januari 1955 ini menganggap obat hanyalah sebagai pilihan kedua. “Sebenarnya yang lebih penting dalam mengobati pasien adalah mendidik mereka untuk menerapkan pola hidup sehat,” saran Ketua Program Pendidikan Spesialis Penyakit Dalam pada RSMH ini.
Metode penyembuhan yang disebutnya dengan pengobatan holistik tersebut lebih menitikberatkan pada proses penyembuhan yang menyeluruh. Misalnya, sesorang mengeluh penyakit maag. Yang bersangkutan, menurut dia, jangan hanya diberi obat maag saja. “Harus dicari dulu penyebabnya. Mungkin saja penyakit yang sebenarnya adalah stress. Jadi, stressnya juga harus ditangani,” jelas dia.
Dokter yang berpraktek di Graha Spesialis Rumah Sakit Muhammad Hoesin (RSMH) ini mengimbau para pasiennya untuk tetap berkonsultasi dengan dokter guna mengetahui penyakit yang diderita. “Jangan hanya menyimpulkan sendiri dari artikel-artikel kesehatan yang dibaca. Anamnesis (pemeriksaan dokter) tetap penting,” imbau ayah lima anak ini.
Mengenai pengalaman praktik, alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Unsri) tahun 1983 ini mengisahkan perjuangannya selama menjalani masa tugas di daerah pelosok di Curup, Bengkulu. Setelah lulus, dia bertugas di sebuah daerah pegunungan. Dokter konsultan senior spesialis penyakit dalam ini pun mengaku pernah hampir masuk ke jurang di daerah tersebut.
Bahkan, cerita Alwi, disana masih banyak siamang (sejenis kera). Akibatnya, setiap mandi di sungai, dia harus senantiasa waspada. Sebab, siamang-siamang itu kerap mendekati, bahkan mengejar-ngejar penduduk setempat. ”Mungkin dikira saudara kali ya,” ujarnya sambil bercanda. (CR-16)
Commento :
Editor ku sayang, reporter nya malang….
Saatnya bernostalgila. Ini adalah salah satu contoh tulisanku yang dipermak ama redaktur. Setelah ku baca-baca lagi, pada masa awal menjalani profesi, tulisan ku memang rada berantakan. Makanya aku hobi membandingkan dengan tulisan yang telah diedit (perbaikannya kutandai dengan highlight biar gampang). Seiring berjalannya waktu, dengan bantuan teman, mentor, editor dan redaktur, alhamdulillah ada perbaikan.
Menjadi jurnalis, apalagi wartawan koran harian, tantangannya bukan hanya menulis dengan benar, tapi bagaimana menyelesaikan tulisan dalam waktu singkat. Ibaratnya nih, sebagus apapun tulisan, kalau lewat deadline dan ga terbit, ga mungkin dibaca orang kan?
Tantangannya bukan hanya waktu, tapi mental. Ya, deadline emang bikin stress. Tulisan yang terburu-buru ga mungkin sempurna. Kerap kali aku mikir, kalau aku ngerjainnya di lain waktu dan dengan pikiran yang tenang, hasilnya akan jauh lebih bagus dibandingkan nulis dengan tangan dan kepala jumpalitan, diteror ama redaktur lewat telpon-yang justru buang waktu. Tapi disitulah seni dan “keasyikannya”. Percayalah, kalau kamu emang berjiwa adrenalin junkie, justru itu yang bikin ketagihan. ….
Mengenai masalah Me Vs Deadline ini pun setiap jurnalis pasti memiliki segudang cerita. Kebanyakan sih cerita sedih dan derita hehe. Pernah nih, aku diultimatum untuk dapetin komentar dan analisis dari pengamat transportasi untuk berita delay pesawat di bandara. Setelah diuber sana-sini ternyata satu-satunya pengamat yang kredibel lagi S-3 di Belanda. Nah lho!
Disampingku, si bos mendelik dengan tatapan awas-jangan-telepon-inget-tagihan. Sedangkan redaktur yang diberitahu kekeuh harus dapet. Gimana hayo? Dasar otakku tuh justru ‘kinclong’ kalau sedang di ujung tanduk, akhirnya terbetik ide; kenapa ga lewa chatting internet aja? Soalnya temen2 ku yang sedang sekolah di luar negeri, biasanya selalu OL 24 jam karena disana sambungan internet dah kayak sembako, bukan barang mewah selayaknya disini.
Meski ditungguin ampe batas deadline halaman utama jam 11 malem, tetep deg-degan juga karena tinggal beberapa menit lagi. Jadilah aku sambil chatting ama si ibu, sekalian nulis (apalagi karena tertulis, mindahinnya hasil wawancaranya gampang, tinggal copy paste hehe).
Dan besoknya… ternyata hasil wawancara itu ga dimasukin!! Mungkin karena space nya juga udah ga muat lagi. Reflek, dalam hati merutuk “Kenapa ga bilang sebelumnya bossss?”. Permintaan khusus sang nara sumber pun terngiang-ngiang… “Hasil cetaknya tolong dikasih tahu ya, biar dikliping dan dikirim ama suami saya kesini.. ” Twewewewewew…..
Rabu, 29 Oktober 2008
Bondan Dadakan
FEATURES
Ragam Masakan Khas Daerah Sumsel di Festival Masakan Paguyuban
Tahan Lama Tanpa Pengawet,
Berkhasiat sebagai Obat
Makanan khas daerah Sumsel ternyata amat kaya. Mulai dari beragam penganan ringan yang tahan lama tanpa pengawet, hingga lauk-pauk yang kelezatannya mampu menggoyang lidah. Bahkan, ada yang berkhasiat sebagai obat malaria dan diabetes.
Sebagai pembuka, makanan khas dari daerah Ogan Ilir (OI), yakni klepon Janteum patut dicoba. Klepon Janteum termasuk unik dan spesial, karena hanya disajikan di bulan Ramadhan sebagai makanan berbuka puasa dan hanya ada di daerah Kerinjing, Kabupaten OI. Berbeda dari kue klepon yang umumnya berbentuk bulat, kali ini kue yang berisikan cairan gula merah itu disajikan dalam loyang dan disiram santan masak yang gurih.
Sang koki yang juga ahli kuliner, Manang, mengisahkan asal-usul nama makanan tersebut. “Gula merahnya akan terasa setelah diemut di lidah cukup lama, jadi seperi ledakan bom yang bunyinya teuum, membuat orang penasaran dan kaget. Jadi, ditelan baru teum. Makanya, namanya Janteum,” terang dia sembari menambahkan, karena cukup susah untuk membuat penganan manis ini, tidak semua orang mampu membuatnya dengan cita rasa yang pas.
Jika sedang bepergian jauh keluar
Kali ini, sang pembuat makanan tersebut, Ibu Fatimah, bersedia berbagi tips. “Cukup direbus dengan kulit pete atau daun jambu. Dijamin rasa pahitnya hilang,” ujar Fatimah meyakinkan. Lalu, kenapa namanya Lanang atau berarti jantan? Ternyata, yang berkhasiat hanyalah batang pohon pepaya yang ‘berjenis kelamin’ jantan.
Untuk yang suka lauk-pauk lezat, daerah Kayu Agung memiliki masakan ikan yang khas, Ikan Jumajang Panggang namanya. Ikan sungai khas Sungai Musi ini pada umumnya berukuran besar dan panjang hingga mencapai setengah meter. Teksturnya lembut dan gurih. Yang membuatnya semakin nikmat adalah sambalnya yang istimewa, dimasak dari sambal mangga dan buah kedondong hutan. Rasanya? Nikmatnya dijamin bisa menggoyang lidah dan membuat ketagihan. (CR-16)
Comment: Ternyata jadi penyicip dan reviewer makanan itu susah-susah gampang. Awalnya sih enak, makan gratisan. Tapi lama-lama, enek bok. Palagi karena makanan yang harus dicicip jumlahnya banyak, setiap jenis masakan cuma bisa dikit doank ngambilnya. Setelah lebih dari sepuluh jenis, ni lidah rasanya udah ga keruan hiks…
Skuter oh Vespa....
FEATURE
Agus, Pengembara Skuter AsalKeliling Indonesia dengan Skuter Demi Persaudaraan
Pria berperawakan tinggi, berkulit hitam itu sedang duduk santai di atas skuter tua kesayangannya. Rambutnya gimbal. Mirip Bob Marley, sang tokoh Rastafara dari
Meski tampak garang, ternyata setelah disapa dan mengobrol cukup lama, pria ini sebenarnya cukup ramah. Agus, nama pria itu. Meski masih tampak muda, usianya sudah hampir kepala empat, tepatnya 36 tahun. Dia masih lajang ternyata. “Saya suka kebebasan dan masih ingin berpetualang,” akunya.
Begitupun, dirinya mengaku bahagia dengan hidup yang diajalaninya sekarang ini. Baginya, teman dan sahabat-sahabatnya sesama skuter mania sudah cukup. Sudah
Alasannya sederhana, ia sangat terkesan dengan ikatan persaudaraan yang terjalin antar anggota KANVAS yang berjumlah sekitar 150 orang itu. Untuk masuk menjadi anggota klub ini pun tidak mudah, ada seleksi ketat yang harus dijalani. Sekarang saja, kata Agus, masih ada sekitar 50 calon anggota yang masuk daftar tunggu.
“Seleksinya ya biasa sajalah, kegiatan konvoi dan nongkrong bareng untuk memumbuhkan rasa persaudaraan sesama anggota. Tidak ada perploncoan seperti geng-geng motor yang di tivi kemaren itu lho mbak,” ujarnya mengingatkan akan kasus kekerasan geng motor Brigez yang terjadi sekitar November 2007 lalu.
Lalu, apa saja kegiatan ‘geng’ vespa ini ? Sebagai salah satu pengurus, Agus menuturkan, kebanyakan anggota klubnya adalah orang yang sekedar mengisi waktu senggang dengan menyalurkan hobi dan minatnya terhadap Vespa. Jadi, hampir setiap gathering (pertemuan) yang biasanya diadakan seminggu sekali, mereka menghabiskan waktu dengan jalan-jalan ke tempat wisata, konvoi di jalanan kota, atau sekedar bertukar informasi mengenai vespa yang menjadi ‘pujaan’ mereka.
Namun, karena tanggung jawabnya sebagai ketua tim koordinasi konvoi, tak jarang bila ada undangan gathering atau konvoi di berbagai daerah di
“Ikatan persaudaraan antar klub motor itu sangat kuat mbak. Kalau diundang oleh klub lain dimanapun, pasti akan kami datangi. Selain itu, ajang kumpul seperti ini merupakan cara kami untuk menjalin silaturahmi dan persaudaraan,” ujarnya serius. Buktinya, setelah bulan Februari lalu Agus mengikuti undangan gathering di Bandung untuk memecahkan rekor MURI, begitu ada undangan Jambore Skuter di Palembang tanggal 23 Maret baru-baru ini, Agus langsung meluncur dengan Vespa tua kesayangannya. Bahkan, mulai bulan April hingga Juni nanti, ‘jadwal’ Agus sudah penuh untuk memenuhi undangan saudara-saudaranya di daerah Jambi,
Agus mengaku, hampir setiap pulau di
Ternyata Agus memiliki tips sendiri untuk mengatasi rasa lelah saat harus mengendarai vespa dalam waktu lama. Jok Vespanya sengaja ia buang. Tujuannya, supaya pantat tidak panas dan pegal katanya. Lho kok begitu?
Menjawab hal itu, Agus tertawa lepas. “Semua pencinta Vespa juga tau, kalau mesin Vespa itu panas mesinnya tidak terlalu terasa seperti sepeda motor. Justru kalau joknya dilepas akan lebih dingin. Lagian saya sudah biasa. Dari Surabaya ke
Dalam setiap perjalanannya pun, Agus seolah-olah tidak ingin membuang kesempatan untuk mengunjungi setiap objek wisata terkenal di daerah yang ia datangi. Sebagai guide, dengan gampangnya ia bisa meminta teman klub yang mengundang untuk menemani dan ‘menanggung’ akomodasi perjalanannya.
Meski begitu, sebagai mata pencahariannya Agus berjualan sparepart (suku cadang) Vespa yang sudah menjadi keahliannya. Dia hapal jenis setiap suku cadang dan spesifikasinya. “Hasilnya lumayan lah untuk biaya hidup ala kadarnya,” ujarnya merendah.
Dia mengisahkan, sebelum menggeluti kehidupan layaknya pengembara ini Agus sempat berprofesi sebagai supir truk selama delapan tahun. Tapi karena akhirnya kepincut dengan Vespa dan komunitasnya ini, Agus memilih untuk ‘mengabdikan’ hidupnya hanya untuk Vespa. “Saya lebih suka hidup seperti ini. Keluarga pun tidak protes. Dan selama tidak merugikan orang lain, tidak ada salahnya toh,” tanyanya retoris.
Mungkin kehidupan seperti Agus ini tidak terbayangkan oleh orang awam. Menghabiskan hidup dengan berkendara kesana kemari dengan Vespa butut. Tapi kecintaannya kepada Vespa dan persaudaraan selalu menjadi pompa penyemangatnya untuk tetap berkeliling
Bihain de skin :
Satu acara, dapet tiga tulisan. Diantaranya dua feature yang –menurutku- menarik. Saat wawancara dan menulisnya pun aku enjoy. Hari itu Minggu yang panas, 23 Maret 2008, diselenggarakan Jambore Skuter dan VW nasional di Palembang. Tempatnya di dekat pelataran Benteng Kuto Besak (BKB)
Sebenarnya ungkapan
Awalnya sih bahan ini hanya sebagai pelengkap berita straight news ku. Tapi, sesampai di kantor ternyata wartawan yang giliran piket buat feature mangkir dan yang lainnya dianggap tidak layak. Jadilah malam itu aku “ditodong” redaktur nulis feature 4000 karakter dalam setengah jam. Fuih….
PS : tulisan diatas –dan sebagian besar posting di blog ini- merupakan tulisan ku yang belum di edit redaktur. Tapi setelah aku bandingin, ternyata tidak banyak yang diubah. Leadnya pun tidak. Kalau diminta mengkritik tulisanku sendiri, disini aku membuat blunder dengan tidak konsisten menulis istilah skuter, yang selanjutnya kutulis sebagai Vespa ( nama merek tuh..). Yang empunya merek keenakan, iklan gratisan…
Minggu, 05 Oktober 2008
Pejabat Nyeleb

Buat Video Clip, Berdayakan Staf Sendiri
Disaat para artis ramai-ramai terjun ke ranah politik. Pejabat yang satu ini juga tak mau kalah. Ditengah kesibukannya sebagai birokrat, dunia hiburan pun dirambahnya.
Seorang gadis manis tampak malu-malu berjalan menyusuri sebuah pantai. Rambut panjangnya yang terurai sesekali tersibak dimainkan angin ‘nakal’. Tak lama berselang, tampil sesosok pria paruh baya dengan dandanan necis. Dari bibirnya terlantun sebuah lagu melankolis.
Jangan salah, pria berkacamata hitam itu bukan penyanyi dangdut ataupun artis karbitan jebolan kontes selebritis yang marak di televisi. Di Kabupaten Ogan Ilir, pria gagah yang tengah melantunkan lagu gubahannya sendiri itu dikenal sebagai Vickri Bastari, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Ogan Ilir.
Kini, Vickri –begitu biasa ia disapa- telah mengkoleksi dua album. Album perdananya diluncurkan pada 2006 lalu. Jumlahnya pun terbatas, hanya seribu copy kaset dan compact disc(CD). Meski hanya diedarkan kepada teman dan para koleganya, sambutan masyarakat ternyata cukup positif. Banyak orang menanyakan bagaimana cara memperoleh album berjudul Desember pun Berlalu tersebut.
“Karena ternyata sambutan terhadap album saya cukup antusias,saya langsung ‘kejar setoran’ menggarap album berikutnya,”ujarmya sumringah.
Untuk menggolkan kedua album tersebut, Vickri rela merogoh kocek pribadi. Meski enggan menyebut jumlah pastinya, dengan mantap dia berujar tidak menyesal mengeluarkan uang tersebut satu sen pun. “Alhamdulillah ada beberapa teman saya yang membantu, baik dari segi materi maupun dalam proses pembuatan”sebutnya.
Untuk proses rekaman, dia menggunakan jasa sebuah studio murah meriah di bilangan Jakarta Selatan, yakni studio Obor. Videoklipnya? “Tidak usah jauh-jauh. Di Sumsel sendiri banyak objek wisata yang cukup indah untuk dijadikan latar belakang videokilp saya,”terangnya.
Pria yang mulai berkarir di bidang pemerintahan sejak 35 tahun lalu ini memang sengaja mengambil lokasi shooting di berbagai pelosok tempat wisata. Sebut saja, pantai Parai di Sungailiat, Kabupaten Bangka, Tanjung Pesona, serta Payakabung dan Tanjung Putus di Kab OI. Alasannya, tentu saja ingin sekaligus memperkenalkan potensi wisata daerah.
Agar estetika keindahannya bertambah ‘menggigit’, Vickri tak ragu menggunakan model gadis cantik dalam videoklipnya. Tak mesti pusing memikirkan biaya, Vickri dengan jeli menggunakan taktik murah meriah. “Saya berdayakan saja karyawan di lingkungan Pemkab. Banyak juga kok yang cantik-cantik hahahaha…”ujarnya berkelakar. Tak ada salahnya, toh para pegawai tenaga suka rela (TKS) itu juga dengan senang hati ‘menghiasi’ layar videoklipnya.
Mulai dari album pertama hinga album kedua yang rampung Januari 2008 lalu, Vickri tetap setia dengan genre musik pop melankolis. Hebatnya, dia menciptakan sendiri 10 lagu dari 11 lagu dalam album yang berjudul Relung Hati tersebut.
Ketika disinggung kenapa tidak merambah alur musik dangdut yang kini sedang tren, Vickri dengan lugas mengakui terus terang. “Cengkoknya itu loh. Ga kuat saya.
Tergantung Mood, Dalam Semalam Rampung Tiga Lagu
Untuk menggubah lagu, Vickri mengandalkan mood dan pengalaman hidup. Pernah dalam semalam, tiga lagu berhasil dirampungkannya.
Terlahir sebagai anak sulung dari sepuluh bersaudara, Vickri harus menempuh perjalanan yang cukup panjang untuk mengecap kesuksesan yang diraihnya kini. Karena keluarganya berasal dari keluarga tak mampu, dengan sukarela ia menunda kuliahnya. “Sebagai anak sulung terpaksa saya putus sekolah. Pasalnya, saya harus bertanggung jawab menyekolahkan adik-adik,”kenangnya.
Pria yang juga hobi mengoleksi topi ini memulai karirnya sebagai PNS di Dinas Perburuhan (sekarang dinas tenaga kerja) Provinsi Sumsel pada 1973. Tiga tahun kemudian, didorong semangat belajar yang tinggi, Vickri kuliah di jurusan Hukum Universitas Sriwijaya (Unsri).
Tak jarang gajinya sebagai pegawai negeri dihabiskannya untuk membeli kaset penyanyi favoritnya seperti Engelbert Hamperding, Clive Richard hingga Frank Sinatra. Bahkan menurut pengakuannya, kini koleksinya telah mencapi seribu kaset. “Ibu saya sampai ngomel-ngomel melihat saya rutin beli kaset setiap habis gajian. Tapi karena sudah kadung hobi, ya jalan terus,”ujarnya dengan sorot mata jenaka.
Minatnya terhadap seni musik dimulai saat SMP dan SMA, putra pasangan Abu Bakar Bastari dan Siti Niswah ini sering nongkrong bareng anak-anak band. Meski saat itu dirinya hanya ‘duduk manis’ sebagai penonton, Vickri tetap memendam obsesi sebagai penyanyi dan pencipta lagu di relung hatinya.
Masa kuliahnya pun tidak jauh dari dunia musik. Sebagai aktivis, Vickri dan kawan-kawan sering mengundang berbagai artis untuk tampil di pentas seni yang digawanginya. Artis yang didatangkan pun bukan kelas ecek-ecek. “Mulai dari Koes Plus, Panbers, Godbless hingga Ahmad Albar pernah saya datangkan. Sebagian hasil penjualan tiket pertunjukan tersebut kami sumbangkan ke panti sosial,”kisahnya.
Semasa kuliah, ayah
Bagaimana tidak, dirinya nekat melanggar aturan tidak boleh siaran saat mantan Presiden Soeharto berkunjung ke Sumsel pada 1976. “Saya adalah satu-satunya pemilik stasiun radio amatir yang nekat siaran saat itu. Siaran saya memang full 24 jam memutar lagu-lagu barat dan underground,”ucapnya.
Untuk urusan menciptakan lagu, Vickri mengaku mengandalkan mood. Tak jarang, pengalaman pribadi dan pengamatannya terhadap lingkungan sekitar dijadikan ‘bahan
Ternyata, bagi suami Ida Nurhayati ini perasaan melankolis saat jatuh cinta merupakan senjata ampuh untuk menciptakan bait-bait syair romantis. “Cinta merupakan energi dahsyat yang mampu menggerakkan jiwa seni saya. Seakan-akan, nada-nada dan lirik mengalir begitu saja dari mata air,”ujarnya tak kalah romantis.
Hingga saat ini, Vickri masih aktif mencipta lagu. Total jenderal, sudah 32 lagu berhasil ia rampungkan. Lagu terakhir yang diciptakannya ternyata cukup menyentuh, berkisah tentang cintanya kepada sang ibunda yang meninggal 12 Februari lalu.
Vickri pun menyenandungkan cuplikan lagu berjudul Mengenang Ibu tersebut. “Bahagia kurasakan. Saat ku bersama ibu. Dipeluk dibelai selalu. Tapi kini Ibu telah tiada. Pergi untuk selamanya..” lantunnya dengan suara bas yang khas. Diluar, gerimis perlahan-lahan turun dari langit yang kelam. Seolah-olah menggambarkan suasana hatinya yang sedang merindu. (akrimah/habis)
Behind the skin (dibalik kulit=)
Ini tulisan feature pertama dan terakhirku sewaktu ditugasin di daerah. Boleh dibilang ni orang pejabat yang cukup berpengaruh. Kata wartawan senior yang lama ditugasin disana, orangnya cukup pelit sebagai narasumber. Mereka bilang sih cukup salut juga aku bisa 'menembus' ni orang. Setelah itu, kalo mo wawancara beliau lebih dimudahkan. Bahkan tamunya aja disuruh nunggu hehehe.
Satu lagi, sebenarnya ada cerita off the record tentang kisah percintaan sang pejabat. i dont know why he told me about it. ternyata beliau...... sory bos, namanya juga off the record. ya ga boleh diceritainlah... =P
