Minggu, 05 Oktober 2008

Pejabat Nyeleb

3-4 Juni 2008

Buat Video Clip, Berdayakan Staf Sendiri

Disaat para artis ramai-ramai terjun ke ranah politik. Pejabat yang satu ini juga tak mau kalah. Ditengah kesibukannya sebagai birokrat, dunia hiburan pun dirambahnya.

Seorang gadis manis tampak malu-malu berjalan menyusuri sebuah pantai. Rambut panjangnya yang terurai sesekali tersibak dimainkan angin ‘nakal’. Tak lama berselang, tampil sesosok pria paruh baya dengan dandanan necis. Dari bibirnya terlantun sebuah lagu melankolis.

Jangan salah, pria berkacamata hitam itu bukan penyanyi dangdut ataupun artis karbitan jebolan kontes selebritis yang marak di televisi. Di Kabupaten Ogan Ilir, pria gagah yang tengah melantunkan lagu gubahannya sendiri itu dikenal sebagai Vickri Bastari, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Ogan Ilir.

Kini, Vickri –begitu biasa ia disapa- telah mengkoleksi dua album. Album perdananya diluncurkan pada 2006 lalu. Jumlahnya pun terbatas, hanya seribu copy kaset dan compact disc(CD). Meski hanya diedarkan kepada teman dan para koleganya, sambutan masyarakat ternyata cukup positif. Banyak orang menanyakan bagaimana cara memperoleh album berjudul Desember pun Berlalu tersebut.

“Karena ternyata sambutan terhadap album saya cukup antusias,saya langsung ‘kejar setoran’ menggarap album berikutnya,”ujarmya sumringah.

Untuk menggolkan kedua album tersebut, Vickri rela merogoh kocek pribadi. Meski enggan menyebut jumlah pastinya, dengan mantap dia berujar tidak menyesal mengeluarkan uang tersebut satu sen pun. “Alhamdulillah ada beberapa teman saya yang membantu, baik dari segi materi maupun dalam proses pembuatan”sebutnya.

Untuk proses rekaman, dia menggunakan jasa sebuah studio murah meriah di bilangan Jakarta Selatan, yakni studio Obor. Videoklipnya? “Tidak usah jauh-jauh. Di Sumsel sendiri banyak objek wisata yang cukup indah untuk dijadikan latar belakang videokilp saya,”terangnya.

Pria yang mulai berkarir di bidang pemerintahan sejak 35 tahun lalu ini memang sengaja mengambil lokasi shooting di berbagai pelosok tempat wisata. Sebut saja, pantai Parai di Sungailiat, Kabupaten Bangka, Tanjung Pesona, serta Payakabung dan Tanjung Putus di Kab OI. Alasannya, tentu saja ingin sekaligus memperkenalkan potensi wisata daerah.

Agar estetika keindahannya bertambah ‘menggigit’, Vickri tak ragu menggunakan model gadis cantik dalam videoklipnya. Tak mesti pusing memikirkan biaya, Vickri dengan jeli menggunakan taktik murah meriah. “Saya berdayakan saja karyawan di lingkungan Pemkab. Banyak juga kok yang cantik-cantik hahahaha…”ujarnya berkelakar. Tak ada salahnya, toh para pegawai tenaga suka rela (TKS) itu juga dengan senang hati ‘menghiasi’ layar videoklipnya.

Mulai dari album pertama hinga album kedua yang rampung Januari 2008 lalu, Vickri tetap setia dengan genre musik pop melankolis. Hebatnya, dia menciptakan sendiri 10 lagu dari 11 lagu dalam album yang berjudul Relung Hati tersebut.

Ketika disinggung kenapa tidak merambah alur musik dangdut yang kini sedang tren, Vickri dengan lugas mengakui terus terang. “Cengkoknya itu loh. Ga kuat saya. Susah juga ternyata,”katanya masygul. (akrimah/bersambung)


Tergantung Mood, Dalam Semalam Rampung Tiga Lagu

Untuk menggubah lagu, Vickri mengandalkan mood dan pengalaman hidup. Pernah dalam semalam, tiga lagu berhasil dirampungkannya.

Terlahir sebagai anak sulung dari sepuluh bersaudara, Vickri harus menempuh perjalanan yang cukup panjang untuk mengecap kesuksesan yang diraihnya kini. Karena keluarganya berasal dari keluarga tak mampu, dengan sukarela ia menunda kuliahnya. “Sebagai anak sulung terpaksa saya putus sekolah. Pasalnya, saya harus bertanggung jawab menyekolahkan adik-adik,”kenangnya.

Pria yang juga hobi mengoleksi topi ini memulai karirnya sebagai PNS di Dinas Perburuhan (sekarang dinas tenaga kerja) Provinsi Sumsel pada 1973. Tiga tahun kemudian, didorong semangat belajar yang tinggi, Vickri kuliah di jurusan Hukum Universitas Sriwijaya (Unsri).

Tak jarang gajinya sebagai pegawai negeri dihabiskannya untuk membeli kaset penyanyi favoritnya seperti Engelbert Hamperding, Clive Richard hingga Frank Sinatra. Bahkan menurut pengakuannya, kini koleksinya telah mencapi seribu kaset. “Ibu saya sampai ngomel-ngomel melihat saya rutin beli kaset setiap habis gajian. Tapi karena sudah kadung hobi, ya jalan terus,”ujarnya dengan sorot mata jenaka.

Minatnya terhadap seni musik dimulai saat SMP dan SMA, putra pasangan Abu Bakar Bastari dan Siti Niswah ini sering nongkrong bareng anak-anak band. Meski saat itu dirinya hanya ‘duduk manis’ sebagai penonton, Vickri tetap memendam obsesi sebagai penyanyi dan pencipta lagu di relung hatinya.

Masa kuliahnya pun tidak jauh dari dunia musik. Sebagai aktivis, Vickri dan kawan-kawan sering mengundang berbagai artis untuk tampil di pentas seni yang digawanginya. Artis yang didatangkan pun bukan kelas ecek-ecek. “Mulai dari Koes Plus, Panbers, Godbless hingga Ahmad Albar pernah saya datangkan. Sebagian hasil penjualan tiket pertunjukan tersebut kami sumbangkan ke panti sosial,”kisahnya.

Semasa kuliah, ayah lima anak ini juga aktif di kegiatan radio amatir. Bahkan, dalam hal ini Vickri pernah mengalami peristiwa pahit sekaligus menghebohkan. Stasium radio amatirnya pernah diciduk pihak militer.

Bagaimana tidak, dirinya nekat melanggar aturan tidak boleh siaran saat mantan Presiden Soeharto berkunjung ke Sumsel pada 1976. “Saya adalah satu-satunya pemilik stasiun radio amatir yang nekat siaran saat itu. Siaran saya memang full 24 jam memutar lagu-lagu barat dan underground,”ucapnya.

Untuk urusan menciptakan lagu, Vickri mengaku mengandalkan mood. Tak jarang, pengalaman pribadi dan pengamatannya terhadap lingkungan sekitar dijadikan ‘bahan baku ’ lagu yang digubahnya. “Kalau sedang on, satu lagu bisa selesai dalam waktu tiga jam. Bahkan, pernah dalam semalam saya merampungkan tiga buah lagu,”ujarnya bangga.

Ternyata, bagi suami Ida Nurhayati ini perasaan melankolis saat jatuh cinta merupakan senjata ampuh untuk menciptakan bait-bait syair romantis. “Cinta merupakan energi dahsyat yang mampu menggerakkan jiwa seni saya. Seakan-akan, nada-nada dan lirik mengalir begitu saja dari mata air,”ujarnya tak kalah romantis.

Hingga saat ini, Vickri masih aktif mencipta lagu. Total jenderal, sudah 32 lagu berhasil ia rampungkan. Lagu terakhir yang diciptakannya ternyata cukup menyentuh, berkisah tentang cintanya kepada sang ibunda yang meninggal 12 Februari lalu.

Vickri pun menyenandungkan cuplikan lagu berjudul Mengenang Ibu tersebut. “Bahagia kurasakan. Saat ku bersama ibu. Dipeluk dibelai selalu. Tapi kini Ibu telah tiada. Pergi untuk selamanya..” lantunnya dengan suara bas yang khas. Diluar, gerimis perlahan-lahan turun dari langit yang kelam. Seolah-olah menggambarkan suasana hatinya yang sedang merindu. (akrimah/habis)



Behind the skin (dibalik kulit=)
Ini tulisan feature pertama dan terakhirku sewaktu ditugasin di daerah. Boleh dibilang ni orang pejabat yang cukup berpengaruh. Kata wartawan senior yang lama ditugasin disana, orangnya cukup pelit sebagai narasumber. Mereka bilang sih cukup salut juga aku bisa 'menembus' ni orang. Setelah itu, kalo mo wawancara beliau lebih dimudahkan. Bahkan tamunya aja disuruh nunggu hehehe.
Satu lagi, sebenarnya ada cerita off the record tentang kisah percintaan sang pejabat. i dont know why he told me about it. ternyata beliau...... sory bos, namanya juga off the record. ya ga boleh diceritainlah... =P

Tidak ada komentar: