Minggu, 19 Agustus 2012

Fake online shop should be turned off!

I'll write it in 'bahasa' indonesia, because it's concerning Indonesian reader..

Online shop... dari dulu ga pernah tertarik yg beginian. Indonesia gitu loh, kl soal perlindungan konsumen dan penegakan hukum mah alam rimba banget deh! 
ok, jd saya br aja investigasi (jiah) ke salah satu grup yg didedikasikan untuk korban penipuan online shop. setelah saya check FBnya nemulah saya album katalog yg isinya :

My immediate comment was: kok  posenya hampir sama semua?? kl saya sih langsung teringat website looklet.com, situs padu padan busana yg bisa milih modelnya dan ya itu.. posenya bisa disetting sama untuk puluhan bahkan mungkin ratusan baju.

mugkin ga siy ada situs yg serupa yg dipake oleh online shop beginian? trus kl emang asli kenapa kok ya kyk ga natural ya? bukan hanya posenya yg kyknya ga berubah bahkan posisinya jg. bukankah pas pemotretean model hrs ganti baju n pas duduk lg posisinya bisa bergeser? well, I'm just curious.

bagi saya pribadi, sampai saat ini semogagaberubahsampaikapanpun saya ga suka belanja online. apalagi yg pake kartu kredit, yah karena saya punya jg siy hehehe (dan males punya). meskipun fashion itu passion saya, tapi saya msh pikir lagi buang-buang uang untuk mengkoleksi sekian puluh pasang sepatu atau baju-baju keren. What I love 'bout fashion is the creativity side. spending lavish money for fashion is irrational, imho;)

Sabtu, 18 Agustus 2012

Love it..!

I'm really glad I've chosen android phone over stupidlyoverpriced&overrated Blackberry. For the same price I got dual camera; 8 Mp at the back and VGA at the front to make a video call, instead of one lame 3Mp camera at Blackberry. And many other worthed comparisons

Now I'm eager to explore the android apps world. For the start, of course,  games and photo editor!
Here is my first favorite photos, using PicsArt & color splash app. And yes, of course I only use the free apps:D




Jumat, 27 Juli 2012

Contemplate: How often we do this?


As much as I despise Sex&The City, I do admire one thing from this based-on-book drama serial; it always begun with the main character -carrie-'s questioning, observation, and often ended up in her conclusion to a phenomenon that she saw in her daily life. I think it's the main attractive point for the viewers. because actually they had the same questions. but it seemed that no body bothered -or may be not as good as her- doing the contemplation.

And u know what, it's ironic because as moslems we are urged to do that. human differs with other creature -especially animal- by its ability to THINK. we should not living our life just to fulfil our basic instincts ; hunger, thirst, and other biological drives. The difference is huge, meaningless Vs meaningful life.

that makes me realize how lucky I am that being in a-balanced-academical-and-religious upbringing, I was used to have disccussion about many things, from science (what is gravity?), daily life (how u drive on street reflects your social manner), and religion (fasting indeed makes u healthy,why women are obliged to wear jilbab).

lucky number two, having an education in ITB made me meet many smart people that also having the same agitation with me. I remember I had many disccusions-or debate- with some fellows of mine about philosophical matters, and many of these disscussions were begun with "Why?".

I miss those old glory moments.... despite me and my close friends are living apart right now, I hope somehow we can manage to continue doing it. Or somehow may be it's merely me now. yup, somehow...

Selasa, 07 Februari 2012

just spit it out!



pardon me, previously the title was 'I just wanna say..', but I found it understated. I'm just gonna be rambling here, merely random thoughts. I just feel this urge to spit out many trivial things in my head. no worries of grammar, spelling, and ... manners hehehe:)

hmm.. first of all. I've found this irrititating article in NY times website : http://www.nytimes.com/2012/02/05/sunday-review/europe-moves-to-protect-online-privacy.html?ref=sunday . the first thought on my mind was.. what the heck?? I was stunned, shocked (although I've got a hunch about it,that's why i abandoned facebook lately). it's crazy, enough said.

and the next thing is.. why does it seem people dont blog anymore? seriously, should we put twitter to be blamed of? reading blog is alot more fun than someone's timeline, for sure (with a few exceptions;). so many notorius blogs that i've subscribed are becoming less and less splendid, and ... alive. dee's blog, raditya dika, tika, jenny and many more seems give their live away to stack of timelines. so please twitter, dont take my pleasure..

ok, before this post becoming a whining and annoying shout out, that's all i'm saying (a.k.a complaining) about. and now, i'm gonna keep tracking down :D

Jumat, 03 Februari 2012

Saya butuhnya besok pak, bukan tiga bulan lagi..


Klubnya Diminati Anak-anak Hingga Lansia

Ternyata aeromodelling tidak hanya diminati orang dewasa dan kalangan tentara. Anak-anak hingga lansia pun tertarik menikmati olahraga udara yang satu ini.

Yudistira, 14, misalnya, putra Komandan Landasan Udara (Danlanud) Let. Kol Kusworo ini mengaku baru setahun ini menekuni olahraga aeromodelling, saat ini Yudis-panggilan akrabnya- tergabung dalam klub Aeromodelling Sriwijaya yang beranggotakan sekitar tiga puluh orang. “Sebagian besar memang anggotanya bapak-bapak, yang anak-anak cuma saya dan teman saya yang kelas 4 SD,” jelas pelajar yang saat ini duduk di kelas 2 SMP ini.

Dia mengaku tidak canggung berlatih diantara sesama klub Aeromodelling yang sebagian besar orang dewasa tersebut. “Di China saja, ada anak-anak dibawah umur lima tahun (balita) yang sudah mahir aeromodelling. Bahkan, teman bapak saya, Pak Budiharjo sudah pensiun saja masih aktif latihan,” katanya seraya menyebutkan nama Kapordirga Aerommodelling Sumsel tersebut.

Yudis menuturkan, pada awalnya sebelum “terjun” ke lapangan dia harus menjalani simulasi dengan komputer dahulu, layaknya bermain game. Setelah menguasai dasar-dasar pengendaian remote controlnya, lanjut dia, Yudis berlatih dengan ditemani instrukur yang sudah ahli. “Ibaratnya seperti berlatih menyetir mobil, satu pesawat dikendalikan dua RC. Kalau ada tanda-tanda yang tidak beres, instruktur bisa langsung mengambil alih,” terang dia.

Dia mengatakan, setiap Sabtu dan Minggu klubnya berlatih di lapangan udara milik AURI di Tangga Buntung, biasanya mulai dari jam 8 pagi hingga jam 12 siang. “Jenis yang paling saya senangi Aeromodelling dengan remote control (RC), mainnya asyik banget” pungkasnya.

Ketua Harian Federasi Aero Sport Indonesia Daerah (FASIDA) Sumsel Tri Hermawan menambahkan, sebenarnya Aeromodelling ini terdiri dari rangkaian perancangan, pembuatan dan penerbangan. “Jadi semestinya seorang peminat atau atlet aeromodelling tidak hanya bisa menerbangkannya saja, tapi juga harus bisa merancang serta membuat pesawatnya,” terangnya kepada SINDO saat ditemui di pertemuan panitia International Aeromodelling Event di Hotel Horison kemarin.

Dia menambahkan, Aeromodelling terbagi menjadi tiga jenis, yakni Free Flight yakni terbang bebas, Control Line yang kendalinya menggunakan tali dan yang terakhir, Remote Control (RC).

“Memang yang paling banyak peminatnya Aeromodelling yang menggunakan remote control (RC), tapi sebenarnya ada jenis yang paling murah yaitu Free Flight. Cara bermainnya cukup menerbangkan pesawat miniatur dengan tangan dan tenaga angin, biayanya cukup murah kok, dengan modal Rp 20 ribu saja sudah cukup,” terang dia

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum FASI Indonesia Purnomo Sidi menambahkan, bahwa kegiatan aeromodelling ini sangat sesuai untuk menanamkan nilai sportifitas pada anak-anak. “Aeromodelling ini dapat memupuk rasa percaya diri, disiplin serta kerja sama dalam tim,” imbuhnya.

Untuk itu, lanjut dia, sebaiknya kegiatan olahraga ini semakin disosialisasikan kepada kalangan muda khususnya anak-anak. “Karena, selain itu juga kegiatan ini dapat menumbuhkan rasa kecintaan dan menambah wawasan kedirgantaraan anak-anak. Agar mereka sadar, bahwa betapa luasnya aera dirgantara kita yang mencapai 7,9 juta km persegi. Dan itu merupakan kekayaan negara yang harus kita jaga,” tandasnya. (CR-16)

Bihain de Skin ;
It’s Tangga Buntung dude…

Setelah mencari file lanjutan tulisan Feature ku yang sebelumnya, ternyata error nama bandara lama itu aku koreksi di sambungan yang terbit esok harinya.

Masalah sambung-menyambung feature ini ada ceritanya juga nih, awalnya aku ga niat sama sekali dan belum terbayang tulisan ini bakal ada sambungannya. Tapi ya itu, pujian membawa repot. Sorenya bos ku bilang “Feature kamu bagus. Sayang cuma satu edisi, besok saya tunggu kelanjutannya. Cari angle yang lain, pokoknya harus dapet,”. Period.

Deng! Kocar-kacir lah mencari bahan. FYI, wawancara itu sebenarnya setengah iseng. Waktu itu pejabat tsb lagi nungguin peresmian sebuah acara yang ga ada kaitannya sama sekali dengan aeromodeling.

Oke tenang bro… akhirnya aku menghubungi lagi sang nara sumber. Beliau bilang aku boleh datang besok harinya –Minggu— saat mereka latihan di bandara lama yang namanya-bikin-aku-malu-stengah-idup itu.

“Pak, tapi saya butuhnya hari ini-Sabtu- karena untuk terbit BESOK,”
“Ya ga bisa donk, masa latihannya dimajuin??”
“Ada even lain mungkin?”
“Iya ada, tiga bulan lagi”
“…….”
It’s your own problem lady, not mine…
“Oke deh Pak, bisa kita ketemu untuk wawancara lagi? Saya akan tanya hal lain,”
“Hari ini saya harus rapat buat event itu, kamu boleh datang..”

Dan hari yang gila pun berlanjut saat aku –wartawan satu-satunya- terkurung di rapat birokrasi berjam-jam dan belum tau harus ngambil angle apa dan tentu saja, FOTO untuk tulisan feature ku. Ga mungkin kan foto mereka lagi rapat.

And then Yudistira came along… Dari ngobrol sok akrab saat makan siang itu pun terpetik angle yang dijadiin judul tulisan diatas. Masalah foto beres: minta dokumentasi panitia yang kebetulan ada di presentasinya. Habis perkara?

Ternyata tetep ada yang komplain. Pak Budiharto kaget saat ujug-ujug namanya jadi Budiharjo. Ok, I was sucks. But still, I love my job….

Humperdink, bukan Hamperding ;p


SINDO SUMSEL, 16&17 Februari 2008, Hal 9.

FEATURE
Menikmati hobi Aeromodeling (1)

Habiskan Puluhan Juta Demi Kesenangan di Udara

Aeromodeling, tak banyak orang di Palembang “berani” menekuni hobi satu ini. Alasannya, dibutuhkan dana yang tidak sedikit untuk menjajal hobi yang masih langka ini.

Salah satu dari segelintir orang tersebut adalah Syaidina Ali Msi, Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kota Palembang. Pak Syai—demikian dia biasa disapa— mengaku baru menekuni hobi aeromodelling ini sejak 2006 yang lalu.

“Karena memang aeromodeling ini baru menjadi trend dua-tiga tahun belakangan. Awalnya hanya anak saya yang cowok yang tertarik. Tapi setelah mencoba, saya jadi ikut-ikutan menggandrunginya,” ujarnya sumringah.

Aeromodeling baginya mengasyikkan. Pemainnya bisa mengendalikan pesawat bermanuver ataupun berakrobatik di udara.Kegiatan itu bisa memacu adrenalin, namun aman karena pengendalinya (pilot) berada di darat. Tentu berbeda dengan pilot pesawat yang menerbangkannya langsung di udara yang penuh risiko.

Pak Syai menuturkan, saat ini dirinya sudah memiliki tiga pesawat aeromodeling, dua pesawat serta satu miniatur helikopter ukuran sedang. Untuk setiap pesawat tipe Futana berukuran sekitar satu meter tersebut, Pak Syai rela merogoh kocek Rp30 juta. Sedangkan untuk helikopter kesayangannya, cukup dibutuhkan Rp1,5 juta.

“Sebenarnya kalau bodynya saja murah, yang Rp 800 ribu juga ada. Tapi memang, yang masih mahal mesinnya karena kan masih harus diimport. Bahan bakarnya saja khusus, tidak boleh sembarangan. Memangnya bajaj, bisa pake bensin hahaha…” ujarnya sambil bercanda.

Untuk bahan bakarnya, kata dia, harus jenis metanol yang harganya tak kalah “aduhai”. “Biasanya untuk pesawat jenis Futana yang pake mesin 300 cc, untuk durasi 10 menit dibutuhkan metanol sebanyak empat liter yang harga perliternya “hanya” Rp250 ribu rupiah,” jelas dia.

Saat ditanya apakah keluarganya pernah protes mengenai hobinya yang terkesan “jet set” itu, dia berkilah, untuk hobi tidak ada salahnya mengeluarkan biaya. “Toh untuk kesenangan kita sendiri juga, apa salahnya?!” tanya dia retoris.

Untuk memuaskan hobi yang merupakan sumber kesenangannya itu, setiap hari minggu Pak Syai meluangkan waktu senggangnya menerbangkan pesawat aeromodeling di lapangan terbang Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II di Talang Betutu milik Angkatan Udara RI (AURI) Palembang. “Kalau sedang asyik-asyiknya bisa lupa waktu lho, kapan-kapan saya ajak,” ujarnya menawarkan.

Saat ini, tutur dia, Pak Syai tergabung dalam sebuah klub penggemar aeromodeling di Palembang, bernama klub Aeromodelling Sriwijaya. “Anggota kita sekarang memang masih sedikit, tapi kegiatannya lumayan aktif. Baru-baru ini kami baru saja mendatangkan instruktur khusus dari Jakarta untuk berlatih,” imbuhnya.

Dia mengaku, hingga saat ini, baik dirinya maupun klub aeromodelling tersebut belum pernah mengikuti kejuaraan aeormodeling karena kesempatan yang cukup jarang di Sumsel. “Tapi tahun 2008 ini, rencananya Palembang akan menjadi tuan rumah lomba Aeromodelling Internasional. Saya kira itu sudah kemajuan yang cukup beerarti untuk penggemar aeromodeling di Palembang,” tandasnya. (CR-16/bersambung)


Bihain de skin :
Damn, Talang Betutu

Data yang akurat merupakan modal wartawan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Bukan hanya demi kode etik dan kepentingan nara sumber, tapi terkadang kesalahan sepele pun bikin malu reporter yang nulis.

Contohnya ya ini, begitu tulisan ku terbit esok harinya, sang nara sumber langsung komplain— lebih tepatnya diketawain— “Bandara lama itu bukan di Talang Betutu neng, tapi di….” Waduh ampe sekarang aku juga ga inget bok. Mungkin saat itu aku juga diketawain ribuan orang palembang, atau yang berbaik hati mungkin akan berhusnuzon; mungkin wartawannya bukan orang Palembang kali, atau baru ditugasin disini—pikiran yang naif….
Bukannya pembelaan nih, meski aku gede di kota ini, tapi jarang banget keliaran. Bahkan, aku aja baru tau letak jalan Radial-salah satu jalan utama di Palembang- setelah jadi wartawan. Dan banyak tempat lainnya yang baru aku ‘ngeh’.

Kesalahan yang kedua, event aeromodeling yang disebutkan nara sumber. Yang bener skala internasional, bukan se-Indonesia. Geblek banget dah.

Ada juga nih, kesalahan yang bikin aku ngakak super gwede—pas lagi sendirian pula, sempet dikira orang gila. Berbulan-bulan setelah aku nulis feature tentang pejabat nyeleb yang aku posting pertama di blog ini, aku baru nyadar telah melakukan kesalahan sepele yang memalukan setelah membaca artikel di sebuah majalah.

Nama seorang penyanyi terkenal jaman lawas, Engelbert Hamperding, harusnya Engelbert Humperdink saudara-saudara!! Mampus aku! kebayang kan betapa twewewew –nya sang pejabat atau bahkan sekian banyak pembaca yang baca tulisanku, yang sangat “ngeh” kalau ejaan nama itu salah berat…

First thought: oke gue emang dogol dan bukan fans musik jadul, not 100% my fault ^^; Dan sialnya, editor ku yang tidak-cukup-beruntung-pernah-membaca-nama-penyanyi itu juga tidak ditakdirkan menjadi ABG penggila musik di jaman lawas tersebut.

Tapi begitu lah-kalau emang lagi apes. Hikmahnya, sejak saat itu aku berusaha mengecek data lewat internet atau check lagi kepada nara sumbernya. Like the proverbial expression says; experience teaches you all…..

Curcol..




Oke, penting-ga-penting, inilah curahan hati saya saat ini : Sumpah, saya kangen banget liputan lagi,menulis -terutama feature. tapi.. kenyataan dihadapan saya saat ini ialah; dalam sebulan saya harus menyelesaikan buku tesis yang tebalnya mungkin bisa dipake buat nimpukin cowok sok ganteng yang siul-siul ga jelas saat cewek lewat *mulaigafokus*

intinya, saya kangeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeen ..... *sigh*

Seharian 'tersiksa' oleh alunan dangdut



Jujur aja, saya ga suka dangdut. musik melayu masih ok. Tapi saya alergi denger dangdut ajeb-ajeb, remix, koplo, mellow-menjurus-frustasi-kayak-orang-mo-bunuh-diri,atau apapun itu. apalagi kl harus denger seharian, hell no. lima menit aja mules *iya,emang segitunya*

tapiiii... yah, inilah yang namanya resiko kerjaan. Di suatu hari bulan Maret 2008, akhirnya saya ketiban apes juga. harus dengerin orang nyanyi dangdut seharian. harus, mutlak, fardu ain. apalagi, catet nih ya, yang saya liput tuh audisi. yang nyanyi bisa ratusan ampe ribuan, dan kebanyakan -to be honest- amatiran. tapi saya masih bisa menghibur diri, untung bukan saya yang jadi jurinya, harus menyimak satu-persatu peserta yang jumlahnya bejibun itu;p

kenapa harus meliput seharian? bagi media lain mungkin ga terlalu penting ya. tapi berhbung tv penyelenggara audisi dan media cetak tempat saya bekerja masih sodaraan, liputan beginian ditunggu-tunggu buat headline. mungkin yang bisa ngegesernya cuma berita gubernur ketauan selingkuh atau ada gempa di gunung Dempo *ngetok meja tiga kali*

kalo liputan hard news-nya ga menarik lah ya. tapi waktu itu, begitu saya nyampe tempat audisi, saya langsung bisa mencium aroma tulisan feature *halah*. mulai dari kostum para peserta yang unik, aneh bin ajaib, polah tingkah mereka saat diaudisi atau suasana hectic saat antri sangatlah menarik perhatian -karena pada dasarnya saya suka aja memperhatikan kerpibadian orang2, santapan yang menarik buat pemerhati psikologi manusia seperti saya;)

seingat saya, waktu itu saya juga menulis tentang uniknya para peserta audisi, bahkan ada seorang wanita yang membawa ular berukuran besar saat audisi. tu ular dengan santainya dililitkan di leher dan pake dibelai-belai pula! kebayang kan reaksi orang2 saat doski antri di pendaftaran. namun yang tersimpan di dokumentasi saya hanya tulisan ini. tentang orang-orang dibalik layar audisi KDI. sebenarnya alasan saya menulis feature ini berawal dari rasa ingin tahu saya pribadi. kayak apa sih orang-orang dibalik layar audisi kontes idol-idolan seperti ini?


Perjuangan demi lahirnya seorang bintang

Suksesnya sebuah kegiatan sangat ditentukan oleh kekompakan tim yang terlibat di dalamnya. Tak terkecuali audisi KDI-5 di Palembang yang berlangsung mulai tanggal 1 hingga 4 Maret di Hotel Sandjaja kemarin. Tim audisi yang terdiri produser, kamerawan hingga penata lampu ini telah bekerja keras untuk menghasilkan sebuah acara yang menghibur bagi pemirsa TPI.

Harris Cinnamon, sang eksekutif produser mengatakan, Audisi KDI-5 yang digelar di 26 kota ini bertujuan untuk benar-benar menyaring bakat terpendam dari anak-anak muda yang ingin menjadi seorang artis dangdut. “Kami sengaja mengadakan audisi ini disetiap kota, supaya masyarakat kalangan bawah yang dananya terbatas dapat tetap mengikuti audisi. Kami tidak ingin kehilangan seseorang yang sebenarnya berpotensi untuk menjadi bintang,” tuturnya.

Salah satu produser, Erick Tamalagi mengatakan, Audisi KDI-5 ini memang sudah seperti jelajah nusantara. Hampir setiap kota di propinsi didatangi, semuanya itu demi lahirnya seorang bintang, kata dia. “Tapi ya itu, konsekuensinya, kami (para kru) harus rela keliling Indonesia dan berpisah dengan anak istri selama berbulan-bulan,” kata dia.

Tapi dia mengaku, hal itu merupakan resiko perkerjaan yang harus dijalaninya. “Yah berginilah kalau kerja di bidang broadcasting. Tidak kenal waktu dan tempat, kita harus standby 24 jam,’ ujarnya kepada SINDO.

Sembari berkelakar dia berujar, ada untungnya juga sponsor utama acara KDI-5 ini adalah produk jamu masuk angin. Karena, memang sebagian besar kru sering masuk angin lantaran sering bergadang dan telat makan. “Jadi, kami tidak usah khawatir, stok jamu masuk angin berlimpah, dan gratis pula hahahaha,” kata salah satu pengurus Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) ini.

Risma, lain lagi kisahnya. Sebagai salah satu tim Audisi KDI di Palembang mengisahkan dirinya sebenarnya berat hati berpisah dari suami dan anak. “Hampir tiap hari saya dan suami saling telepon menananyakan kabar, akibatnya ya bisa ditebak. Pulsa telepon membengkak,” ujarnya sambil terkantuk-kantuk.

Maklum, sudah empat hari Risma hampir tidak pernah merasakan tidur. “Dua hari ini, saya tidurnya di atas jam tiga pagi. Bahkan hari ini saya tidak tidur sama sekali mbak. Harus rekap data nilai penjurian peserta soalnya,” jelas dia.

Untuk mengusir rasa jenuh, para kru ini saling menghibur dan mendukung satu sama lain. Tentu saja, jika ada salah satu dari mereka saja yang kolaps jatuh sakit, awak KDI-5 yang lain sangat direpotkan. “Pokoknya kami saling mengingatkan, jangan lupa makan dan sesekali tidur curi-curi waktu tidak apa-apa. Rasa lelahnya ditahan dikit lah,’ tambah Anto, sang juru lampu atau lighting man.

Anto yang asli Palembang ini mengatakan, sebenarnya dirinya pribadi tidak suka dangdut. “Tapi , ya mau gimana lagi ya. Sejak kerja di KDI saya hampir tiap hari dengerin dangdut ampe bosen. Akhirnya, yah.. kebal sendiri deh,” kata alumnus Politeknik Unsri jurusan Teknik Elektro ini.

Setiap kru punya kisah dan perjuangannya masing-masing. Tapi satu hal yang mereka harapkan, perjuangan mereka nantinya tidak akan sia-sia. Karena akan lahir sebuah bintang KDI baru yang dapat menghibur para pemirsa di rumah. (CR-16)


saya jadi inget si anto, cowok angkuh yang lama nemenin saya ngobrol. awalnya mungkin dia iseng flirting- ga ada kerjaan kali yaaa- tapi karena saya jutekin terus, akhirnya kami malah bertengkar hahaha. dia banyak cerita soal 'karir' pekerjaannya di dunia televisi. suka duka-nya dan impian dia di masa depan. doi kesinggung berat saya panggil tukang lampu hehehe.
"saya ini laiting men, ngerti ngggak artinya?" buset dah, ni orang emang ngajakin berantem deh hahaha..

cat: foto ilustasi dr mbah gugel :)