
Jujur aja, saya ga suka dangdut. musik melayu masih ok. Tapi saya alergi denger dangdut ajeb-ajeb, remix, koplo, mellow-menjurus-frustasi-kayak-orang-mo-bunuh-diri,atau apapun itu. apalagi kl harus denger seharian, hell no. lima menit aja mules *iya,emang segitunya*
tapiiii... yah, inilah yang namanya resiko kerjaan. Di suatu hari bulan Maret 2008, akhirnya saya ketiban apes juga. harus dengerin orang nyanyi dangdut seharian. harus, mutlak, fardu ain. apalagi, catet nih ya, yang saya liput tuh audisi. yang nyanyi bisa ratusan ampe ribuan, dan kebanyakan -to be honest- amatiran. tapi saya masih bisa menghibur diri, untung bukan saya yang jadi jurinya, harus menyimak satu-persatu peserta yang jumlahnya bejibun itu;p
kenapa harus meliput seharian? bagi media lain mungkin ga terlalu penting ya. tapi berhbung tv penyelenggara audisi dan media cetak tempat saya bekerja masih sodaraan, liputan beginian ditunggu-tunggu buat headline. mungkin yang bisa ngegesernya cuma berita gubernur ketauan selingkuh atau ada gempa di gunung Dempo *ngetok meja tiga kali*
kalo liputan hard news-nya ga menarik lah ya. tapi waktu itu, begitu saya nyampe tempat audisi, saya langsung bisa mencium aroma tulisan feature *halah*. mulai dari kostum para peserta yang unik, aneh bin ajaib, polah tingkah mereka saat diaudisi atau suasana hectic saat antri sangatlah menarik perhatian -karena pada dasarnya saya suka aja memperhatikan kerpibadian orang2, santapan yang menarik buat pemerhati psikologi manusia seperti saya;)
seingat saya, waktu itu saya juga menulis tentang uniknya para peserta audisi, bahkan ada seorang wanita yang membawa ular berukuran besar saat audisi. tu ular dengan santainya dililitkan di leher dan pake dibelai-belai pula! kebayang kan reaksi orang2 saat doski antri di pendaftaran. namun yang tersimpan di dokumentasi saya hanya tulisan ini. tentang orang-orang dibalik layar audisi KDI. sebenarnya alasan saya menulis feature ini berawal dari rasa ingin tahu saya pribadi. kayak apa sih orang-orang dibalik layar audisi kontes idol-idolan seperti ini?
Perjuangan demi lahirnya seorang bintang
Suksesnya sebuah kegiatan sangat ditentukan oleh kekompakan tim yang terlibat di dalamnya. Tak terkecuali audisi KDI-5 di Palembang yang berlangsung mulai tanggal 1 hingga 4 Maret di Hotel Sandjaja kemarin. Tim audisi yang terdiri produser, kamerawan hingga penata lampu ini telah bekerja keras untuk menghasilkan sebuah acara yang menghibur bagi pemirsa TPI.
Harris Cinnamon, sang eksekutif produser mengatakan, Audisi KDI-5 yang digelar di 26 kota ini bertujuan untuk benar-benar menyaring bakat terpendam dari anak-anak muda yang ingin menjadi seorang artis dangdut. “Kami sengaja mengadakan audisi ini disetiap kota, supaya masyarakat kalangan bawah yang dananya terbatas dapat tetap mengikuti audisi. Kami tidak ingin kehilangan seseorang yang sebenarnya berpotensi untuk menjadi bintang,” tuturnya.
Salah satu produser, Erick Tamalagi mengatakan, Audisi KDI-5 ini memang sudah seperti jelajah nusantara. Hampir setiap kota di propinsi didatangi, semuanya itu demi lahirnya seorang bintang, kata dia. “Tapi ya itu, konsekuensinya, kami (para kru) harus rela keliling Indonesia dan berpisah dengan anak istri selama berbulan-bulan,” kata dia.
Tapi dia mengaku, hal itu merupakan resiko perkerjaan yang harus dijalaninya. “Yah berginilah kalau kerja di bidang
broadcasting. Tidak kenal waktu dan tempat, kita harus
standby 24 jam,’ ujarnya kepada SINDO.
Sembari berkelakar dia berujar, ada untungnya juga sponsor utama acara KDI-5 ini adalah produk jamu masuk angin. Karena, memang sebagian besar kru sering masuk angin lantaran sering bergadang dan telat makan. “Jadi, kami tidak usah khawatir, stok jamu masuk angin berlimpah, dan gratis pula hahahaha,” kata salah satu pengurus Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) ini.
Risma, lain lagi kisahnya. Sebagai salah satu tim Audisi KDI di Palembang mengisahkan dirinya sebenarnya berat hati berpisah dari suami dan anak. “Hampir tiap hari saya dan suami saling telepon menananyakan kabar, akibatnya ya bisa ditebak. Pulsa telepon membengkak,” ujarnya sambil terkantuk-kantuk.
Maklum, sudah empat hari Risma hampir tidak pernah merasakan tidur. “Dua hari ini, saya tidurnya di atas jam tiga pagi. Bahkan hari ini saya tidak tidur sama sekali mbak. Harus rekap data nilai penjurian peserta soalnya,” jelas dia.
Untuk mengusir rasa jenuh, para kru ini saling menghibur dan mendukung satu sama lain. Tentu saja, jika ada salah satu dari mereka saja yang kolaps jatuh sakit, awak KDI-5 yang lain sangat direpotkan. “Pokoknya kami saling mengingatkan, jangan lupa makan dan sesekali tidur curi-curi waktu tidak apa-apa. Rasa lelahnya ditahan dikit lah,’ tambah Anto, sang juru lampu atau lighting man.
Anto yang asli Palembang ini mengatakan, sebenarnya dirinya pribadi tidak suka dangdut. “Tapi , ya mau gimana lagi ya. Sejak kerja di KDI saya hampir tiap hari dengerin dangdut ampe bosen. Akhirnya, yah.. kebal sendiri deh,” kata alumnus Politeknik Unsri jurusan Teknik Elektro ini.
Setiap kru punya kisah dan perjuangannya masing-masing. Tapi satu hal yang mereka harapkan, perjuangan mereka nantinya tidak akan sia-sia. Karena akan lahir sebuah bintang KDI baru yang dapat menghibur para pemirsa di rumah. (CR-16)
saya jadi inget si anto, cowok angkuh yang lama nemenin saya ngobrol. awalnya mungkin dia iseng flirting- ga ada kerjaan kali yaaa- tapi karena saya jutekin terus, akhirnya kami malah bertengkar hahaha. dia banyak cerita soal 'karir' pekerjaannya di dunia televisi. suka duka-nya dan impian dia di masa depan. doi kesinggung berat saya panggil tukang lampu hehehe.
"saya ini laiting men, ngerti ngggak artinya?" buset dah, ni orang emang ngajakin berantem deh hahaha..
cat: foto ilustasi dr mbah gugel :)