Rabu, 29 Oktober 2008

Skuter oh Vespa....

29 Maret 2008

FEATURE

Agus, Pengembara Skuter Asal Surabaya

Keliling Indonesia dengan Skuter Demi Persaudaraan

Pria berperawakan tinggi, berkulit hitam itu sedang duduk santai di atas skuter tua kesayangannya. Rambutnya gimbal. Mirip Bob Marley, sang tokoh Rastafara dari Jamaica.


Meski tampak garang, ternyata setelah disapa dan mengobrol cukup lama, pria ini sebenarnya cukup ramah. Agus, nama pria itu. Meski masih tampak muda, usianya sudah hampir kepala empat, tepatnya 36 tahun. Dia masih lajang ternyata. “Saya suka kebebasan dan masih ingin berpetualang,” akunya.

Begitupun, dirinya mengaku bahagia dengan hidup yang diajalaninya sekarang ini. Baginya, teman dan sahabat-sahabatnya sesama skuter mania sudah cukup. Sudah lima tahun ini pria asli Surabaya ini tergabung dalam KANVAS, sebuah klub otomotif vespa atau sering disebut skuter. “Saya baru bergabung di KANVAS tahun 2003, awalnya karena saya kagum dengan klub ini,” ujarnya.

Alasannya sederhana, ia sangat terkesan dengan ikatan persaudaraan yang terjalin antar anggota KANVAS yang berjumlah sekitar 150 orang itu. Untuk masuk menjadi anggota klub ini pun tidak mudah, ada seleksi ketat yang harus dijalani. Sekarang saja, kata Agus, masih ada sekitar 50 calon anggota yang masuk daftar tunggu.

“Seleksinya ya biasa sajalah, kegiatan konvoi dan nongkrong bareng untuk memumbuhkan rasa persaudaraan sesama anggota. Tidak ada perploncoan seperti geng-geng motor yang di tivi kemaren itu lho mbak,” ujarnya mengingatkan akan kasus kekerasan geng motor Brigez yang terjadi sekitar November 2007 lalu.

Lalu, apa saja kegiatan ‘geng’ vespa ini ? Sebagai salah satu pengurus, Agus menuturkan, kebanyakan anggota klubnya adalah orang yang sekedar mengisi waktu senggang dengan menyalurkan hobi dan minatnya terhadap Vespa. Jadi, hampir setiap gathering (pertemuan) yang biasanya diadakan seminggu sekali, mereka menghabiskan waktu dengan jalan-jalan ke tempat wisata, konvoi di jalanan kota, atau sekedar bertukar informasi mengenai vespa yang menjadi ‘pujaan’ mereka.

Namun, karena tanggung jawabnya sebagai ketua tim koordinasi konvoi, tak jarang bila ada undangan gathering atau konvoi di berbagai daerah di Indonesia, Agus lah yang ditunjuk sebagai perwakilan klub KANVAS ini.

“Ikatan persaudaraan antar klub motor itu sangat kuat mbak. Kalau diundang oleh klub lain dimanapun, pasti akan kami datangi. Selain itu, ajang kumpul seperti ini merupakan cara kami untuk menjalin silaturahmi dan persaudaraan,” ujarnya serius. Buktinya, setelah bulan Februari lalu Agus mengikuti undangan gathering di Bandung untuk memecahkan rekor MURI, begitu ada undangan Jambore Skuter di Palembang tanggal 23 Maret baru-baru ini, Agus langsung meluncur dengan Vespa tua kesayangannya. Bahkan, mulai bulan April hingga Juni nanti, ‘jadwal’ Agus sudah penuh untuk memenuhi undangan saudara-saudaranya di daerah Jambi, Medan hingga Aceh.

Agus mengaku, hampir setiap pulau di Indonesia ini sudah pernah dijelajahinya. Hanya Irian Jaya saja yang belum pernah. Dan hebatnya, dalam petualangannya berkeliling Indonesia itu Vespa tuanya itu selalu setia menemani. Kalaupun sekali-kali ngadat, Agus mengaku selalu bisa mengatasinya.

Ternyata Agus memiliki tips sendiri untuk mengatasi rasa lelah saat harus mengendarai vespa dalam waktu lama. Jok Vespanya sengaja ia buang. Tujuannya, supaya pantat tidak panas dan pegal katanya. Lho kok begitu?

Menjawab hal itu, Agus tertawa lepas. “Semua pencinta Vespa juga tau, kalau mesin Vespa itu panas mesinnya tidak terlalu terasa seperti sepeda motor. Justru kalau joknya dilepas akan lebih dingin. Lagian saya sudah biasa. Dari Surabaya ke Bandung saja, kalau ngebut hanya makan waktu 10 jam,” jelasnya.

Dalam setiap perjalanannya pun, Agus seolah-olah tidak ingin membuang kesempatan untuk mengunjungi setiap objek wisata terkenal di daerah yang ia datangi. Sebagai guide, dengan gampangnya ia bisa meminta teman klub yang mengundang untuk menemani dan ‘menanggung’ akomodasi perjalanannya.

Meski begitu, sebagai mata pencahariannya Agus berjualan sparepart (suku cadang) Vespa yang sudah menjadi keahliannya. Dia hapal jenis setiap suku cadang dan spesifikasinya. “Hasilnya lumayan lah untuk biaya hidup ala kadarnya,” ujarnya merendah.

Dia mengisahkan, sebelum menggeluti kehidupan layaknya pengembara ini Agus sempat berprofesi sebagai supir truk selama delapan tahun. Tapi karena akhirnya kepincut dengan Vespa dan komunitasnya ini, Agus memilih untuk ‘mengabdikan’ hidupnya hanya untuk Vespa. “Saya lebih suka hidup seperti ini. Keluarga pun tidak protes. Dan selama tidak merugikan orang lain, tidak ada salahnya toh,” tanyanya retoris.

Mungkin kehidupan seperti Agus ini tidak terbayangkan oleh orang awam. Menghabiskan hidup dengan berkendara kesana kemari dengan Vespa butut. Tapi kecintaannya kepada Vespa dan persaudaraan selalu menjadi pompa penyemangatnya untuk tetap berkeliling Indonesia dengan Vespanya. “Setiap orang diberi kebebasan dalam memilih jalan hidupnya. Dan, inilah pilihan saya,” ujarnya mantap. (CR-16)

Bihain de skin :

Satu acara, dapet tiga tulisan. Diantaranya dua feature yang –menurutku- menarik. Saat wawancara dan menulisnya pun aku enjoy. Hari itu Minggu yang panas, 23 Maret 2008, diselenggarakan Jambore Skuter dan VW nasional di Palembang. Tempatnya di dekat pelataran Benteng Kuto Besak (BKB) Palembang, di tepian sungai Musi. Walapun acaranya agak garing, lumayan lah untuk ukuran kota sekaliber Palembang.

Sebenarnya ungkapan nara sumber di akhir tulisan hanya tambahan ku saja. Tapi bukan rekayasa sepenuhnya. Pandangannya itu terungkap secara implisit tentunya. Sumpeh deh, pas wawancara sempet keder liat penampilannya yang sangar. Terlebih, saat wawancara berlangsung, temen2nya pun semangat ikut mengerubungi.

Awalnya sih bahan ini hanya sebagai pelengkap berita straight news ku. Tapi, sesampai di kantor ternyata wartawan yang giliran piket buat feature mangkir dan yang lainnya dianggap tidak layak. Jadilah malam itu aku “ditodong” redaktur nulis feature 4000 karakter dalam setengah jam. Fuih….

PS : tulisan diatas –dan sebagian besar posting di blog ini- merupakan tulisan ku yang belum di edit redaktur. Tapi setelah aku bandingin, ternyata tidak banyak yang diubah. Leadnya pun tidak. Kalau diminta mengkritik tulisanku sendiri, disini aku membuat blunder dengan tidak konsisten menulis istilah skuter, yang selanjutnya kutulis sebagai Vespa ( nama merek tuh..). Yang empunya merek keenakan, iklan gratisan…

Tidak ada komentar: