Rabu, 29 Oktober 2008

Bondan Dadakan

12 Maret 2008
FEATURES

Ragam Masakan Khas Daerah Sumsel di Festival Masakan Paguyuban

Tahan Lama Tanpa Pengawet,
Berkhasiat sebagai Obat

Makanan khas daerah Sumsel ternyata amat kaya. Mulai dari beragam penganan ringan yang tahan lama tanpa pengawet, hingga lauk-pauk yang kelezatannya mampu menggoyang lidah. Bahkan, ada yang berkhasiat sebagai obat malaria dan diabetes.


Sebagai pembuka, makanan khas dari daerah Ogan Ilir (OI), yakni klepon Janteum patut dicoba. Klepon Janteum termasuk unik dan spesial, karena hanya disajikan di bulan Ramadhan sebagai makanan berbuka puasa dan hanya ada di daerah Kerinjing, Kabupaten OI. Berbeda dari kue klepon yang umumnya berbentuk bulat, kali ini kue yang berisikan cairan gula merah itu disajikan dalam loyang dan disiram santan masak yang gurih.

Sang koki yang juga ahli kuliner, Manang, mengisahkan asal-usul nama makanan tersebut. “Gula merahnya akan terasa setelah diemut di lidah cukup lama, jadi seperi ledakan bom yang bunyinya teuum, membuat orang penasaran dan kaget. Jadi, ditelan baru teum. Makanya, namanya Janteum,” terang dia sembari menambahkan, karena cukup susah untuk membuat penganan manis ini, tidak semua orang mampu membuatnya dengan cita rasa yang pas.

Jika sedang bepergian jauh keluar kota, tak ada salahnya membawa kue Lenteng sebagai bekal. Kue yang tekstur dan rasanya yang mirip seperti donat ini, bisa tahan sampai dua minggu tanpa bahan pengawet. Cita rasanya pun tetap enak. Bahannya sebenarnya sederhana saja, hanya tepung terigu dan gula. Tapi, cara pembuatannya yang khas membuatnya tahan lama. Rahasianya? Sayang, sang koki mengatakan hal itu merupakan rahasia keluarga turun temurun.

Ada satu jenis masakan sayuran dari Empat Lawang yang juga dipercaya turun temurun berkhasiat untuk penyakit malaria dan diabetes. Pucuk Kates Lanang namanya. Ada yang menyebutnya sayur Geudang. Meskipun dimasak dari pucuk batang buah pepaya yang masih muda, rasanya sama sekali tidak pahit.

Kali ini, sang pembuat makanan tersebut, Ibu Fatimah, bersedia berbagi tips. “Cukup direbus dengan kulit pete atau daun jambu. Dijamin rasa pahitnya hilang,” ujar Fatimah meyakinkan. Lalu, kenapa namanya Lanang atau berarti jantan? Ternyata, yang berkhasiat hanyalah batang pohon pepaya yang ‘berjenis kelamin’ jantan.

Untuk yang suka lauk-pauk lezat, daerah Kayu Agung memiliki masakan ikan yang khas, Ikan Jumajang Panggang namanya. Ikan sungai khas Sungai Musi ini pada umumnya berukuran besar dan panjang hingga mencapai setengah meter. Teksturnya lembut dan gurih. Yang membuatnya semakin nikmat adalah sambalnya yang istimewa, dimasak dari sambal mangga dan buah kedondong hutan. Rasanya? Nikmatnya dijamin bisa menggoyang lidah dan membuat ketagihan. (CR-16)

Comment: Ternyata jadi penyicip dan reviewer makanan itu susah-susah gampang. Awalnya sih enak, makan gratisan. Tapi lama-lama, enek bok. Palagi karena makanan yang harus dicicip jumlahnya banyak, setiap jenis masakan cuma bisa dikit doank ngambilnya. Setelah lebih dari sepuluh jenis, ni lidah rasanya udah ga keruan hiks…

2 komentar:

Anonim mengatakan...

kan tiap habis nyicip satu masakan, harusnya kumur2 dulu kk :d

bantalkepala mengatakan...

, ternyata liputan kita sama, kuliner yang diulek jadi feature... mantaps..