Jumat, 03 Februari 2012

Humperdink, bukan Hamperding ;p


SINDO SUMSEL, 16&17 Februari 2008, Hal 9.

FEATURE
Menikmati hobi Aeromodeling (1)

Habiskan Puluhan Juta Demi Kesenangan di Udara

Aeromodeling, tak banyak orang di Palembang “berani” menekuni hobi satu ini. Alasannya, dibutuhkan dana yang tidak sedikit untuk menjajal hobi yang masih langka ini.

Salah satu dari segelintir orang tersebut adalah Syaidina Ali Msi, Kepala Dinas Perhubungan (Kadishub) Kota Palembang. Pak Syai—demikian dia biasa disapa— mengaku baru menekuni hobi aeromodelling ini sejak 2006 yang lalu.

“Karena memang aeromodeling ini baru menjadi trend dua-tiga tahun belakangan. Awalnya hanya anak saya yang cowok yang tertarik. Tapi setelah mencoba, saya jadi ikut-ikutan menggandrunginya,” ujarnya sumringah.

Aeromodeling baginya mengasyikkan. Pemainnya bisa mengendalikan pesawat bermanuver ataupun berakrobatik di udara.Kegiatan itu bisa memacu adrenalin, namun aman karena pengendalinya (pilot) berada di darat. Tentu berbeda dengan pilot pesawat yang menerbangkannya langsung di udara yang penuh risiko.

Pak Syai menuturkan, saat ini dirinya sudah memiliki tiga pesawat aeromodeling, dua pesawat serta satu miniatur helikopter ukuran sedang. Untuk setiap pesawat tipe Futana berukuran sekitar satu meter tersebut, Pak Syai rela merogoh kocek Rp30 juta. Sedangkan untuk helikopter kesayangannya, cukup dibutuhkan Rp1,5 juta.

“Sebenarnya kalau bodynya saja murah, yang Rp 800 ribu juga ada. Tapi memang, yang masih mahal mesinnya karena kan masih harus diimport. Bahan bakarnya saja khusus, tidak boleh sembarangan. Memangnya bajaj, bisa pake bensin hahaha…” ujarnya sambil bercanda.

Untuk bahan bakarnya, kata dia, harus jenis metanol yang harganya tak kalah “aduhai”. “Biasanya untuk pesawat jenis Futana yang pake mesin 300 cc, untuk durasi 10 menit dibutuhkan metanol sebanyak empat liter yang harga perliternya “hanya” Rp250 ribu rupiah,” jelas dia.

Saat ditanya apakah keluarganya pernah protes mengenai hobinya yang terkesan “jet set” itu, dia berkilah, untuk hobi tidak ada salahnya mengeluarkan biaya. “Toh untuk kesenangan kita sendiri juga, apa salahnya?!” tanya dia retoris.

Untuk memuaskan hobi yang merupakan sumber kesenangannya itu, setiap hari minggu Pak Syai meluangkan waktu senggangnya menerbangkan pesawat aeromodeling di lapangan terbang Sultan Mahmud Badaruddin (SMB) II di Talang Betutu milik Angkatan Udara RI (AURI) Palembang. “Kalau sedang asyik-asyiknya bisa lupa waktu lho, kapan-kapan saya ajak,” ujarnya menawarkan.

Saat ini, tutur dia, Pak Syai tergabung dalam sebuah klub penggemar aeromodeling di Palembang, bernama klub Aeromodelling Sriwijaya. “Anggota kita sekarang memang masih sedikit, tapi kegiatannya lumayan aktif. Baru-baru ini kami baru saja mendatangkan instruktur khusus dari Jakarta untuk berlatih,” imbuhnya.

Dia mengaku, hingga saat ini, baik dirinya maupun klub aeromodelling tersebut belum pernah mengikuti kejuaraan aeormodeling karena kesempatan yang cukup jarang di Sumsel. “Tapi tahun 2008 ini, rencananya Palembang akan menjadi tuan rumah lomba Aeromodelling Internasional. Saya kira itu sudah kemajuan yang cukup beerarti untuk penggemar aeromodeling di Palembang,” tandasnya. (CR-16/bersambung)


Bihain de skin :
Damn, Talang Betutu

Data yang akurat merupakan modal wartawan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Bukan hanya demi kode etik dan kepentingan nara sumber, tapi terkadang kesalahan sepele pun bikin malu reporter yang nulis.

Contohnya ya ini, begitu tulisan ku terbit esok harinya, sang nara sumber langsung komplain— lebih tepatnya diketawain— “Bandara lama itu bukan di Talang Betutu neng, tapi di….” Waduh ampe sekarang aku juga ga inget bok. Mungkin saat itu aku juga diketawain ribuan orang palembang, atau yang berbaik hati mungkin akan berhusnuzon; mungkin wartawannya bukan orang Palembang kali, atau baru ditugasin disini—pikiran yang naif….
Bukannya pembelaan nih, meski aku gede di kota ini, tapi jarang banget keliaran. Bahkan, aku aja baru tau letak jalan Radial-salah satu jalan utama di Palembang- setelah jadi wartawan. Dan banyak tempat lainnya yang baru aku ‘ngeh’.

Kesalahan yang kedua, event aeromodeling yang disebutkan nara sumber. Yang bener skala internasional, bukan se-Indonesia. Geblek banget dah.

Ada juga nih, kesalahan yang bikin aku ngakak super gwede—pas lagi sendirian pula, sempet dikira orang gila. Berbulan-bulan setelah aku nulis feature tentang pejabat nyeleb yang aku posting pertama di blog ini, aku baru nyadar telah melakukan kesalahan sepele yang memalukan setelah membaca artikel di sebuah majalah.

Nama seorang penyanyi terkenal jaman lawas, Engelbert Hamperding, harusnya Engelbert Humperdink saudara-saudara!! Mampus aku! kebayang kan betapa twewewew –nya sang pejabat atau bahkan sekian banyak pembaca yang baca tulisanku, yang sangat “ngeh” kalau ejaan nama itu salah berat…

First thought: oke gue emang dogol dan bukan fans musik jadul, not 100% my fault ^^; Dan sialnya, editor ku yang tidak-cukup-beruntung-pernah-membaca-nama-penyanyi itu juga tidak ditakdirkan menjadi ABG penggila musik di jaman lawas tersebut.

Tapi begitu lah-kalau emang lagi apes. Hikmahnya, sejak saat itu aku berusaha mengecek data lewat internet atau check lagi kepada nara sumbernya. Like the proverbial expression says; experience teaches you all…..

Tidak ada komentar: