Jumat, 03 Februari 2012

Saya butuhnya besok pak, bukan tiga bulan lagi..


Klubnya Diminati Anak-anak Hingga Lansia

Ternyata aeromodelling tidak hanya diminati orang dewasa dan kalangan tentara. Anak-anak hingga lansia pun tertarik menikmati olahraga udara yang satu ini.

Yudistira, 14, misalnya, putra Komandan Landasan Udara (Danlanud) Let. Kol Kusworo ini mengaku baru setahun ini menekuni olahraga aeromodelling, saat ini Yudis-panggilan akrabnya- tergabung dalam klub Aeromodelling Sriwijaya yang beranggotakan sekitar tiga puluh orang. “Sebagian besar memang anggotanya bapak-bapak, yang anak-anak cuma saya dan teman saya yang kelas 4 SD,” jelas pelajar yang saat ini duduk di kelas 2 SMP ini.

Dia mengaku tidak canggung berlatih diantara sesama klub Aeromodelling yang sebagian besar orang dewasa tersebut. “Di China saja, ada anak-anak dibawah umur lima tahun (balita) yang sudah mahir aeromodelling. Bahkan, teman bapak saya, Pak Budiharjo sudah pensiun saja masih aktif latihan,” katanya seraya menyebutkan nama Kapordirga Aerommodelling Sumsel tersebut.

Yudis menuturkan, pada awalnya sebelum “terjun” ke lapangan dia harus menjalani simulasi dengan komputer dahulu, layaknya bermain game. Setelah menguasai dasar-dasar pengendaian remote controlnya, lanjut dia, Yudis berlatih dengan ditemani instrukur yang sudah ahli. “Ibaratnya seperti berlatih menyetir mobil, satu pesawat dikendalikan dua RC. Kalau ada tanda-tanda yang tidak beres, instruktur bisa langsung mengambil alih,” terang dia.

Dia mengatakan, setiap Sabtu dan Minggu klubnya berlatih di lapangan udara milik AURI di Tangga Buntung, biasanya mulai dari jam 8 pagi hingga jam 12 siang. “Jenis yang paling saya senangi Aeromodelling dengan remote control (RC), mainnya asyik banget” pungkasnya.

Ketua Harian Federasi Aero Sport Indonesia Daerah (FASIDA) Sumsel Tri Hermawan menambahkan, sebenarnya Aeromodelling ini terdiri dari rangkaian perancangan, pembuatan dan penerbangan. “Jadi semestinya seorang peminat atau atlet aeromodelling tidak hanya bisa menerbangkannya saja, tapi juga harus bisa merancang serta membuat pesawatnya,” terangnya kepada SINDO saat ditemui di pertemuan panitia International Aeromodelling Event di Hotel Horison kemarin.

Dia menambahkan, Aeromodelling terbagi menjadi tiga jenis, yakni Free Flight yakni terbang bebas, Control Line yang kendalinya menggunakan tali dan yang terakhir, Remote Control (RC).

“Memang yang paling banyak peminatnya Aeromodelling yang menggunakan remote control (RC), tapi sebenarnya ada jenis yang paling murah yaitu Free Flight. Cara bermainnya cukup menerbangkan pesawat miniatur dengan tangan dan tenaga angin, biayanya cukup murah kok, dengan modal Rp 20 ribu saja sudah cukup,” terang dia

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum FASI Indonesia Purnomo Sidi menambahkan, bahwa kegiatan aeromodelling ini sangat sesuai untuk menanamkan nilai sportifitas pada anak-anak. “Aeromodelling ini dapat memupuk rasa percaya diri, disiplin serta kerja sama dalam tim,” imbuhnya.

Untuk itu, lanjut dia, sebaiknya kegiatan olahraga ini semakin disosialisasikan kepada kalangan muda khususnya anak-anak. “Karena, selain itu juga kegiatan ini dapat menumbuhkan rasa kecintaan dan menambah wawasan kedirgantaraan anak-anak. Agar mereka sadar, bahwa betapa luasnya aera dirgantara kita yang mencapai 7,9 juta km persegi. Dan itu merupakan kekayaan negara yang harus kita jaga,” tandasnya. (CR-16)

Bihain de Skin ;
It’s Tangga Buntung dude…

Setelah mencari file lanjutan tulisan Feature ku yang sebelumnya, ternyata error nama bandara lama itu aku koreksi di sambungan yang terbit esok harinya.

Masalah sambung-menyambung feature ini ada ceritanya juga nih, awalnya aku ga niat sama sekali dan belum terbayang tulisan ini bakal ada sambungannya. Tapi ya itu, pujian membawa repot. Sorenya bos ku bilang “Feature kamu bagus. Sayang cuma satu edisi, besok saya tunggu kelanjutannya. Cari angle yang lain, pokoknya harus dapet,”. Period.

Deng! Kocar-kacir lah mencari bahan. FYI, wawancara itu sebenarnya setengah iseng. Waktu itu pejabat tsb lagi nungguin peresmian sebuah acara yang ga ada kaitannya sama sekali dengan aeromodeling.

Oke tenang bro… akhirnya aku menghubungi lagi sang nara sumber. Beliau bilang aku boleh datang besok harinya –Minggu— saat mereka latihan di bandara lama yang namanya-bikin-aku-malu-stengah-idup itu.

“Pak, tapi saya butuhnya hari ini-Sabtu- karena untuk terbit BESOK,”
“Ya ga bisa donk, masa latihannya dimajuin??”
“Ada even lain mungkin?”
“Iya ada, tiga bulan lagi”
“…….”
It’s your own problem lady, not mine…
“Oke deh Pak, bisa kita ketemu untuk wawancara lagi? Saya akan tanya hal lain,”
“Hari ini saya harus rapat buat event itu, kamu boleh datang..”

Dan hari yang gila pun berlanjut saat aku –wartawan satu-satunya- terkurung di rapat birokrasi berjam-jam dan belum tau harus ngambil angle apa dan tentu saja, FOTO untuk tulisan feature ku. Ga mungkin kan foto mereka lagi rapat.

And then Yudistira came along… Dari ngobrol sok akrab saat makan siang itu pun terpetik angle yang dijadiin judul tulisan diatas. Masalah foto beres: minta dokumentasi panitia yang kebetulan ada di presentasinya. Habis perkara?

Ternyata tetep ada yang komplain. Pak Budiharto kaget saat ujug-ujug namanya jadi Budiharjo. Ok, I was sucks. But still, I love my job….

Tidak ada komentar: